Sabtu, 22 Maret 2014

TUGAS 1 TIK "THEORIES OF LEARNING"





Judul buku      : Theories of Learning
Penulis             : B. R. Hergenhahn Mattew H. Olson

Bab 1
Apa itu Belajar?



Ringkasan
 


S
aat ini belajar merupakan salah satu topik paling penting di dalam psikologi. Menurut Kimble (1961,h.6) belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam behavioral potentially (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice dengan 5 syarat sebagai berikut. Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku.Kedua, perubahan behavioral ini relative permanen. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Keempat, perubahan perilaku berasal dari pengalaman.Kelima, pengalaman atau praktik harus diperkuat.
Kesimpulan : definisi belajar dari Kimble (1961) menyediakan kerangka yang bagus untuk mendiskusikan sejumlah isu penting yang harus dihadapu saat kita mencoba mendifinisikan apa itu belajar.
Kebanyakan teoritis belajar memandang belajar sebagai proses yang memperantarai perilaku. Menurut mereka, belajar adalah sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan mendahului perubahan perilaku.
Hasil belajar akan terus menetap sampai ia dilupakan atau muncul hasil belajar baru yang menggantikan hasil yang lama. Jadi, keadaan temporer dan proses belajar akan memodifikasi perilaku, tetapi lewat belajar itulah modifikasi tersebut akan relative lebih permanen.
Jadi, di sini kita mengatakan bahwa potensi untuk bertindak secara berbeda adalah berasal dari belajar, meskipun perilakunya mungkin tak dipengaruhi dengan segera.Tipe observasi ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai perbedaan antara learning (belajar) dan performance (tindakan).Belajar merujuk pada kemungkinan perubahan perilaku, dan tindakan merujuk pada penerjemahan potensi ini ke dalam perilaku.
Perilaku yang lebih sederhana adalah hasil dari refleks.Sebuah refleks dapat didefinisikan sebagai respon yang tak di pelajari lebih dahulu atau pembawaan internal dalam rangka bereaksi terhadap sekelompok stimuli tertentu.Bersin saat hidung gatal adalah salah satu contohnya.Refleks ini adalah karakteristik bawaan genetik dari organisme, bukan hasil dari pengalaman.
Tetapi poin yang ditekankan di sini adalah agar perubahan perilaku bias dikatakan berkaitan dengan proses belajar, perubahan itu harus relatif permanen dan harus berasal dari pengalaman. Jika satu organisme melakukan satu pola tindakan yang kompleks, namun bukan berasal daari pengalaman, maka tindakan itu tidak bias dikatakan sebagai perilaki yang diperlajari.
Conditioning (pengkondisian, pensyaratan) adalah istilah yang lebih spesifik yang dipakai untuk mendeskripsikan prosedur akual yang dapat memodifikasi perilaku. Karena ada dua jenis pengkondisian :
·         Pengkondisian Klasik dimana penguatan tidak bergantung pada respon nyata yang dibuat oleh organisme.
·         Pengkondisian Instrumental dimana organisme harus bertindak dengan cara tertentu sebelum perilaku di perkuat; yakni penguatan pada perilaku organisme.
Teoritisi belajar semakin menyadari bahwa membatasi diri pada riset pengkondisian instrumental dan klasik saja tidak akan bias membuat mereka memahami area pengalaman manusia yang jauh lebih luas. Tidak ada organisme yang akan bertahan hidup lama jika ia tidak dapat belajar tentang objek lingkungan mana yang bias dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Organisme juga tidak bias bertahan hidup lama jika ia tidak belajar tentang objek mana di dalam lingkungan yang berbahaya dan mana yang aman. Proses belajar inilah yang membuat organisme bias berinteraksi dengan lingkungan untuk memennuhi kebutuhan pokok yang tak bias dipenuhi dengan mekanisme homeostatis atau gerak refleks. Karenanya belajar harus dilihat sebagai alat utama yang digunakan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.Alat lainnya adalah mekanisme homeostatis, gerak refleks dan setidaknya dalam kasus binatang, perilaku adaptif yang tak perlu dipelajari terlebih dahulu.

BAB 2
PENDEKATAN UNTUK STUDI TENTANG BELAJAR
M
etode mempelajari fenomena saat fenomena itu terjadi secara alamiah dinamakan naturalistic observation (observasi naturalistic).Dengan teknik ini, kita melakukan observasi atau pengamatan secara mendetail dan membuat catatan atas apa-apa yang tengah dikaji.Riset ini sering menghasilkan pengelompokan atau klasifikasi berbagai elemen fenomena yang diteliti.Observasi naturalistic mungkin penting untuk mengisolasi kelompok-kelompok kejadian untuk keperluan studi lebih lanjut, namun ini kemudian harus direduksi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil untuk analisis lebih lanjut, pendekatan semacam ini dinamakan elementism.
Aspek- aspek Teori
            Dalam dunia pengetahuan ilmiah, empirisme dan rasionalisme menyatu dalam scientific theory (teori ilmiah).Teori ilmiah mengandung dua aspek penting.Pertama, sebuah teori memiliki aspek formal, yang mencakup kata dan symbol yang ada di dalam teori.Kedua, sebuah teori memiliki aspek empiris, yang terdiri dari peristiwa-peristiwa fisik yang hendak dijelaskan oleh teori itu. Karakteristik teori ilmiah :
  1.  Teori mengsintesiskan sejumlah observasi.
  2.  Teori yang baik bersifat heuristic; artinya, ia menimbulkan riset baru.
  3.  Teori harus menghasilkan hipotesis yang dapat diverifikasi secara empiris.
  4.   Teori adala alat dan karenanya tidak bias dikatakan salah atau benar; ia bias dikatakan berguna atau tidak berguna.
  5.  Teori dipilih berdasarkan hokum parsimony: Dari dua teori sama-sama efektif, yang lebih sederhanalah yang harus dipilih.
  6.  Teori memuat abstraksi, seperti angka atau kata, yang merupakan aspek formal dari teori.
  7.  Aspek formal dari suatu teori harus dikolerasikan dengan kejadian yang dapat diamati, yang merupakan asoek empiris dari suatu teori
  8.   Semua teori adalah usaha untuk menjelaskan kejadia empiris, dan karenanya harus diawali dan diakhiri dengan observasi empiris.
Dalam eksperimen belajar, definisi operasionalnya mengindikasikan jenis perilaku yang akan dipakai untuk membuat indeks belajar. Lamanya jam deprivasi makanan secara sistematis dimanipulasi oleh periset, dan karenanya ia adalah variable bebas.
Menurut Kuhn sendiri, ilmu pengetahuan atau sains berubah (meskipun tidak selalu bertambah maju) melalui serangkaian scientific revolutions (revolusi ilmiah), yang mirip dengan revolusi politik, bukan melalui proses evolusi berkelanjutan dalam satu kerangka teoretis. Menurutnya, evolusi ilmu pengetahuan setidaknya adalah fenomena sosiologis sekaligus fenomena ilmiah. Kita bias menambahkan bahwa ini juga merupakan fenomena psikologis karena ada keterlibatan emosional di dalamnya.

BAB 3
GAGASAN AWAL TENTANG BELAJAR
E
pistemology (epistemologi) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan hakikat pengetahuan.Menurut Plato, setiap objek di dunia fisik memiliki “ide” atau “bentuk” abstrak yang menyebabkannya. Informasi indrawi hanya menghasilkan opini, ide-ide abstrak itu sendiri adalah satu-satunya basis dari pengetahuan yang benar.Jadi pengetahuan yang benar berasal dari instropeksi atau analisis terhadap diri.
Plato adalah nativis karena dia menganggap pengetahuan adalah diwariskan.Dia juga rasionalis karena dia menganggap pengetahuan ini hanya dapat diketahui melalui pemikiran atau penalaran.
ARISTOTELES
Di sini ada dua perbedaan utama antara teori pengetahuan Plato dengan Aristoteles.Pertama, hukum, bentuk, atau alam yang dikaji Aristoteles dianggap tidak memiliki eksistensi yang independen dari manifestasiempirisnya, seperti yang diasumsikan Plato.Semesta adalah hubungan-hubungan yang dapat diamati.Kedua, menurut Aristoteles semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman indrawi.Tentu saja ini berbeda dengan Plato.Karena Aristoteles berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman indrawi maka dia disebut sebagai empirisis.
MAZHAB PSIKOLOGI AWAL
Voluntarisme
Mazhab psikologi pertama adalah voluntarism (voluntarisme) dan aliran ini didirikan oleh Wilhelm Maxmillian Wundt (1832-1920), yang mengikuti tradisi rasionalis Jerman. Tujuan Wundt adalah mempelajari kesadaran sebagaimana ia dialami secara langsung dan mempelajari produk dari kesadaran seperti berbagai pencapaian kultural.
Wundt mencatat bahwa manusia bias memperhatikan secara selektif terhadap elemen apa pun dari pikiran yang mereka inginkan, dan menyebabkan elemen-elemen itu dipahami lebih jelas. Perhatian selektif ini sebagai apperception (appersepsi). Elemen pikiran juga dapat diatur sekehendaknya dalam sejumlah kombinasi, sebuah proses yang oleh Wundt dinamakan creative synthesis (sintesis kreatif). Karena penekanan Wundt pada kehendak inilah maka alirannya dinamakan voluntarisme.
Strukturalisme
Dalam menganalisis elemen pikiran, alat utama yang dipakai voluntaris dan strukturalis adalah introspeksi.Mereka dilatih untuk melaporkan immediate experience (pengalaman langsung) saat mereka mempersepsi objek dan tidak melaporkan interpretasi atas objek itu.Dalam menjelaskan bagaimana elemen-elemen itu dikombinasikan untuk membentuk pemikiran yang kompleks, voluntarisme menekankan pada kehendak, appersepsi, dan sintesis kreatif atau mengikuti tradisi rasionalistik.
Fungsionalisme
Kontribusi utama fungsionalisme untuk teori belajar adalah bahwa mereka mempelajari hubungan kesadaran dengan lingkungan, bukan mempelajarinya sebagai fenomena tersendiri. Fungsionalis tidak menolak studi proses mental namun mereka menegaskan bahwa proses mental harus selalu dipelajari dalam kaitanya dengan survival. Kebanyakan fungsionalis percaya bahwa salah satu tujuan utama mereka adalah memperbaiki informasi yang dapat dipakai untuk meningkatkan kondisi manusia.
Behaviorisme
Behavioris adalah bahwa perilakulah yang seharusnya dipelajari karena perilaku dapat dikaji secara langsung.Behaviorisme berpengaruh besar terhadap teori belajar di Amerika.Teori behavioristic ini dpaat disebut teori fungsional.Jadi, di dalam tajuk behaviorisme umum kita dapat menyusun daftar teori fungsionalistik dan asosiasinistik.
            Satu paradigm kita sebut fungsionalistik. Paradigma ini mencerminkan pengaruh drai Darwinisme karena ia menekankan pada hubungan antara belajar dengan penyesuaian diri dengan lingkungan. Paradigma kedua kita sebut sebagai asosiasionistik sebab ia mempelajari proses belajar dalam term hukum asosiasi. Paradigma ketiga kita namakan kognitif karena ia menekankan sifat kognitif dari belajar. Paradigma keempat disebut sebagai neurofisiologis karena ia berusaha mengisolasi korelasi neurofisiologis dari hal-hal seperti belajar, pemikiran dan persepsi.

BAB 4
EDWARD LEE THORNDIKE
M
enurut Thorndike bentuk paling dasar dari proses belajar adalah trial-and-error learning (belajar dengan uji coba), atau yang disebutnya sebagai selecting and connecting (pemilihan dan pengaitan).
Belajar adalah Inkremental, Bukan Langsung ke Pengertian Mendalam (Insightful)
            Thorndike menyimpulkan bahwa belajar bersifat incremental (bertahap), bukan insightful. Dengan kata lain, belajar dilakukan dalam langkah-langkah kecil yang sistematis, bukan langsung melompat ke pengertian mendalam.
Belajar Tidak Dimediasi oleh Ide
            Jadi, dengan mengikuti prinsip parsimony, Thorndike menolak campur tangan nalar dalam belajar dan ia lebih mendukung tindakan seleksi langsung dan pengaitan dalam belajar. Penentangan terhadap arti penting nalar dan ide dalam belajar ini menjadi awal dari apa yang kemudian menjadi gerakan behavioristic di Amerika Serikat.
Hukum Kesiapan
·         Apabila satu unti konduksi siap menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan memuaskan.
·         Apabila satu unit konduksi siap menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan.
·         Apabila satu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan.
Hukum Latihan
            Hukum latihan menyatakan bahwa kita belajar dengan berbuat dan lupa karena tidak berbuat.
Hukum Efek
            Law of effect (hukum efek) adalah penguatan atau pelemahan dari suatu koneksi antara stimulus dan respon sebagai akibat dari konsekuensi dari respon.
Konsep Sekunder Sebelum 1930
Respon Berganda
            Multiple response, atau respon yang bervariasi, menurut Thorndike adalah langkag dalam semua proses belajar. Respon ini mengacu pada fakta bahwa jika respon pertama kita tidak memecahkan problem maka kita akan mencoba respon lain.
Prapotensi Elemen
            Prepotency of elements (prapotensi elemen) adalah apa yang oleh Thorndike dinamakan “aktivitas parsial dari suatu situasi”. Cara kita merespon terhadap suatu situasi akan bergantung pada apa yang kita perhatikan dan respon apa yang kita berikan untuk apa-apa yang kita perhatikan itu.
Respon dengan Analogi
            Apa yang menentukan cara kita merespon suatu situasi yang belum pernah kita jumpai sebelumnya? Jawaban Thorndike adalah response by analogy (respon dengan analogi), yaitu kita meresponnya dengan cara seperti ketika kita merespon situasi yang terkait (mirip) yang pernah kita jumpai. Jumlah transfer of training antara situasi yang kita kenal dan yang tak kita kenal ditentukan dengan jumlah elemen yang sama di dalam kedua situasi ini. Inilah identical elements theory transfer of training (teori elemen identik dari transfer training) dari Thorndike yang terkenal itu.
Pergeseran Asosiatif
            Associative shifting (pergeseran asosiatif) terkait erat dengan teori Thorndike tentang elemen identic dalam training transfer.
PENDIDIKAN MENURUT THORNDIKE
            Situasi belajar harus sebisa mungkin dibuat mempunyai dunia riil. Seperti yang telah kita ketahui, Thorndike percaya bahwa proses belajar akan ditransfer dari ruang kelas ke lingkungan luar sepanjang dua situasi itu mirip. Mengajari siswa memecahkan problem sulit tidak selalu memperkaya kapasitas penalaran mereka.
            Guru penganut ajaran Thorndike mungkin akan menggunakan control positif di kelas, karena unsur satisfier (pemuas) akan memperkuat koneksi, tetapi unsur annoyer atau pengganggu akan melemahkannya. Guru Thorndike mungkin juga tidak akan menggunakan cara pemberian ceramah di kelas dan lebih memilih menangani murid satu per satu.

BAB 8
EDWIN RAY GUTHRIE
KONSEP TEORITIS UTAMA
Satu Hukum Belajar
G
uthrie (1952) berpendapat bahwa kaidah yang dikemukakan oleh para teoritis seperti Thorndike dan Pavlov adalah terlalu ruwet dan tidak perlu, dan sebagai penggantinya dia mengusulkan satu hukum belajar, law of contiguity (hukum kontiguitas). Cara menyatakan hukum kontiguitas adalah jika Anda melakukan sesuatu dalam situasi tertentu, pada waktu lain saat Anda dalam situasi itu Anda  cenderung akan melakukan hal yang sama.
Belajar Satu Percobaan
            Jadi, menurut Guthrie, belajar adalah hasil dari kontiguitas antara satu pola stimulasi dengan satu respond an belajar akan lengkap (asosiasi penuh) hanya setelah penyandingan antara stimuli dan respon.
Prinsip Kebaruan
            Apapun yang kita lakukan terakhir kali dalam situasi tertentu akan cenderung kita lakukan lagi jika situasi itu kita jumpai lagi.
Stimuli yang Dihasilkan oleh Gerakan
            Guthrie memecahkan problem ini dengan mengemukakan adanya movement-produced stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh gerakan tubuh.Fakta penting tentang stimuli yang disebabkan oleh gerakan ini adala bahwa respon dapat dikondisikan ke stimuli semacam itu.
            Guthrie membedakan antara acts (tindakan) dengan movements (gerakan). Gerakan adalah kontraksi otot, tindakan terdiri dari berbagai macam gerakan. Tindakan biasanya didefinisikan dalam term apa-apa yang dicapainya, yakni perubahan apa yang mereka lakukan dalam lingkungan.
Sifat penguatan
            Menurut Guthrie penguatan hanyalah aransemen mekanis, yang dianggapnya dapat dijelaskan dengan hukum belajarnya.Penguatan mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya mencegah terjadinya nonlearning.
Lupa
            lupa disebabkan oleh munculnya respon alternative dalam satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respon alternative, pola stimulus itu cenderung menghasilkan respon baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Ini adalah retroactive inhibition (hambatan retriaktif) yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses belajar lama diintervensi oleh proses belajar baru.
Cara Memutus Kebiasaan
  •   Metode Ambang yaitu dengan cara mencari petunjuk yang memicu kebiasaan buruk dan lakukan respon lain saat petunjuk itu muncul.
  •  Metode Kelelahan
  •   Metode Respon yang Tidak Komatibel, metode ini untuk menghentikan kebiasaan dengan stimuli untuk respon yang tak diinginkan disajikan bersama stimuli lain yng menghasilkan respon yang tidak kompatibel dengan respon yang tidak diinginkan tersebut.
Pendapat Gurthrie Tentan Pendidikan
            Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respon apa yang haruus dibuat untuk suatu stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respon yang dinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan dilekatkan padanya. Menurutnya yang diperlukan adalah siswa mesti merespon dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu. Latihan (praktik) adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan. Karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus “belajar ulang” berkali-kali.

BAB 10
TEORI GESTALT
G
estalt yang mengikuti tradisi Kantian, percaya bahwa organisme menambahkan sesuatu pada pengalaman, dimana sesuatu itu adalah tindakan menata (organisasi) data.Gestalt adalah kata Jerman yang berarti pola atau konfigurasi.

KONSEP TEORITIS UTAMA
Teori Medan
            Karena otak adalah system fisik, otak menciptakan medan yang memperngaruhi informasi yang masuk ke dalamnya, seperti medan magnet mempengarhui partikel logam. Medan kekuatan inilah yang mengatur pengalaman sadar.Apa yang kita alami secara sadar adalah informasi sensoris setelah ia dikelola oleh medan kekuatan dalam otak.
Hukum Pragnanz
            Kekuatan medan di otaklah yang memunculkan pengalaman yang bermakna dan tertata, ingat bahwa informasi indrawi yang telah ditransformasikan oleh kekuatan medan di otak itulah yang kita alami secara sadar. Jadi, lingkaran yang tak lengkap itu adalah apa yang kita alami secara sadar indrawi (sensoris), tetapi lingkaran utuh adalah pengalaman yang kita alami secara sadar.
Realitas Subjektif dan Objektif
            Menurut teoretisi Gestalt, yang menentukan perilaku adalah kesadaran atau realitas subjektif, dan fakta ini mengandung implikasi penting.Menurutnya, Pragnanz bukan hanya satu-satunya hal yang mengubah dan memberi makna pada apa-apa yang kita alami secraa fisik.Hal-hal seperti keyakinan, nilai-nilai, kebutuhan, dan sikap juga melengkapi apa-apa yang kita alami secara sadar. Ini berarti bahwa orang dalam lingkungan fisik yang persis sama, akan bervariasi dalam mengintepretasikan lingkungan itu, dan karenanya bervariasi pula dalam reaksinya.
Prinsip Belajar Gestalt
            Belajar, menurut Gestalt adalah fenomena kognitif.Organisme “mulai melihat”solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme mendapatkan wawasan (insight)tentang solusi problem.
            Isightful learning (belajar berwawasan) biasanya dianggap memiliki empat karakteristik: 
  •   Transisi dari prasolusi ke solusi terjadi secara mendadak dan komplet
  •   Kinerja berdasarkan solusi diperoleh dengan pengertian mendalam yang biasnaya bebas dari kekeliruan
  •   Solusi untuk suatu problem yang diperoleh melalui wawasan mendalam ini akan diingat dalam waktu yang cukup lama
  •   Prisnisp yang diperoleh melalui wawasan mendalam ini mudah diaplikasikan ke problem lainnya.
Belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan lebih dapat digeneralisasikan ketimbang belajar yang hanya berdasarkan ingatan tanpa pemahaman. Agar benar-benar belajar, siswa harus melihat hakikat atau struktur dari problem, dan mereka harus melakukannya sendiri.Adalah benar bahwa guru dapat membimbing murid untuk mendapatkan wawasan itu, tetapi pada akhirnya mereka sendiri harus berusaha memahaminya.
Pendapat Psikologi Gustalt Tentang Pendidikan
            Bruner dan Holt menganut gagasan Gestaltin bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu didorong-dorong oleh penguatan eksternal. Kelas yang berorientasi Gestalt akan dicirikan oleh hubungan memberi-dan-menerima antara murid dengan guru. Guru akan membantu siswa memandang hubungan dan menorganisasikan pengalaman mereka ke dalam pola yang bermakna. Belajar berdasarkan pendapat Gustalt bias dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setiap langkah dalam pendidikan didasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai.

BAB 16
PENUTUP
S


etidaknya ada empat tren utama dalam pendekatan studi belajar dewasa ini.
  1.  Teori belajar saat ini lebih sederhana cakupannya
  2.  Ada penekanan pada neurofisiologi belajar
  3.   Proses kognitif seperti pembentukan konsep, pengambilan risiko, dan pemecahab masalah kembali menjadi topic studi yang popular
  4.  Ada peningkatan perhatian terhadap aplikasi prinsip belajar untuk solusi problem praktis.
Tampaknya bahwa semakin banyak yang diketahui tentang suatu area, semakin mudah untuk membedakannya.Semakin banyak area belajar yang diketahui, area itu semakin terdiferensiasi.Area belajar menjadi makin heterpgen dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Apa artinya ini bagi mahasiswa yang tertarik untuk mempelajari tentang belajar? Mahasiswa punya petunjuk mengenai pendekatan yang sudah ada untuk mempelajari proses belajar. Mereka bias memilih salah stau pendekatan yang paling memuaskan selera mereka dan berkonsentrasi pada pendekatan itu.