Kamis, 26 Juni 2014

TUGAS 9 (II) TEORI BELAJAR



Judul              : TEORI BELAJAR















RINGKASAN
 
A.      Konsep Pembelajaran Konstruktivistik

K
onstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan). Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui aktivitas seseorang. Teori belajar konstruktivistik biasanya dimulai dari karakteristik manusia masa depan yang diharapkan, konstruksi pengetahuan, proses belajar menurut teori konstruktivistik.

a. Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan.

Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan dalam rangka membangun sumber daya manusia adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggungjawab terhadap risiko dalam pengambilan keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri yaitu proses to learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya. Kepekaan artinya ketajaman baik dalam arti kemampuan berfikirnya maupun kemudahan tersentuh hati nuraninya dalam melihat dan merasakan sesuatu mulai dari kepentingan orang lain sampai kelestarian lingkungan sebagai ciptaan Allah SwT. Kemandirian artinya kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri di samping proses dan hasil berfikir orang lain serta keberanian bertindak sesuai dengan kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan tindakan sendiri. Kolaborasi artinya di samping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri, individu tersebut juga mampu bekerjasama dengan individu lainnya dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama.

b. Proses Mengkonstruksi Pengetahuan

Untuk memperbaiki pendidikan harus diketahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana cara pembelajarannya. Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi (bentukan) dari dirinya. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia, sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Bila pendidik bermaksud menstranfer konsep, ide dan pengetahuan tentang sesuatu kepada siswa, pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh mahasiswa melalui pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri. Ini cocok sekali untuk pengetahuan bisnis karena setiap orang pada zaman sekarang tidak terlepas dari bisnis dalam hidupnya, entah itu sebagai produsen paling tidak sebagai konsumen.
Manusia mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya, melihat, mendengar, menjamah, membau, merasakan. Pengetahuan bukan sesuatu yang ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Von Galserfeld (dalam Paulina Pannen 2001) mengemukakan ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yakni:

1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan untuk mengingat dan mengungkapkan pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi mahasiswa dengan pengalaman tersebut.
2)         Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan membandingkan sangat penting agar mahasiswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta
melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya.
3)         Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada yang lain. Melalui suka dan tidak suka inilah muncul penilaian bagi pembentukan pengetahuaannya.

c. Proses Pembelajaran Menurut Teori Konstruktivistik

Secara konseptual proses pembelajaran jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri mahasiswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh setiap kejadian sebagai pemberian makna oleh mahasiswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan sendiri oleh mahasiswa melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya di kelas maupun di luar budaya kelas. Dalam proses pembelajaran ini melibatkan: peran mahasiswa, peran dosen, sarana pembelajaran, dan evaluasi

1)        Peranan mahasiswa

Menurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan individu yang belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa itu sendiri. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada mahasiswa.
Paradigma konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi kontruktivistik, kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Mahasiswalah yang bertanggungjawab atas hasil belajarnya. Mahasiswa yang membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan cara mencari makna, membandingkannya dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikan ketidaksamaan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang diperlukan dalam pengalaman baru. Setiap mahasiswa mempunyai cara yang cocok untuk mengkontruksikan pengetahuannya yang kadang-kadang sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Dalam hal ini sangat penting bahwa mahasiswa dimungkinkan untuk mencoba bermacam-macam cara belajar yang cocok dan juga penting bahwa dosen menciptakan bermacam-macam situasi dan metode yang membantu mahasiswa. Satu pembelajaran saja tidak akan banyak membantu mahasiswa.

2) Peranan Dosen

Dalam pembelajaran konstruktivistik, dosen atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh mahasiswa berjalan lancar. Pendidik
tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu mahasiswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dosen dituntut untuk lebih memahami jalan fikiran atau cara pandang mahasiswa dalam belajar. Dosen tidak mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya. Menurut prinsip pembelajaran konstruktivistik, seorang pengajar atau dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mahasiswa berjalan dengan baik yaitu;
a) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan mahasiswa bertanggungjawab, memberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang dosen
b) Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan mahasiswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka, menyediakan sarana secara produktif menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar mahasiswa. Dosen perlu menyemangati mahasiswa dan menyediakan pengalaman konflik.
c) Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran mahasiswa berjalan atau tidak. Dosen mempertanyakan apakah pengetahuan mahasiswa dapat diberlakukan untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Dosen membantu
mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan mahasiswa. Menurut Paulina Pannen dkk (1991) agar faktor dosen berperan optimal dalam pembelajaran.
a) Dosen perlu banyak berinteraksi dengan mahasiswa untuk lebih mengerti hal-hal yang sudah diketahui dan dipikirkan mahasiswa
b) Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan di kelas bersama sehingga mahasiswa sungguh terlibat
c) Dosen perlu mengerti pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhanmahasiswa. Hal ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah mahasiswa
d) Diperlukan keterlibatan dosen bersama mahasiswa yang sedang belajar dan dosen perlu menumbuhkan kepercayaan mahasiswa bahwa mereka dapat belajar.
e) Dosen perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran mahasiswa karena kadang kala mahasiswa berfikir berdasarkan pengandaian yang belum tentu diterima oleh dosen.

3) Sarana belajar

Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas mahasiswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya sendiri tentang sesuatu yang dihadapi.
Dengan cara demikian mahasiswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir kritis, kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.

4) Evaluasi Belajar

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pengalaman. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Evaluasi belajar pada pandangan konstruktivistik menggunakan goal free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode goal free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan konstruktivistik. Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkontruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi seperti penemuan, juga sintesis dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.
Brooks & Brooks 1993 (dalam Paulina Pannen 2001) situasi pembelajaran konstruktivistik dalam kelas sebagai berikut:
a. Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh, dengan penjelasan tentang keterkaitan antarbagian, dengan penekanan pada konsep-konsep utama.
b. Pertanyaan mahasiswa dan konstruksi jawaban mahasiswa adalah penting.
c. Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materimateri yang dapat dimanipulasi langsung oleh mahasiswa.
d. Mahasiswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan.
e. Dosen bersikap interaktif dalam pembelajaran, menjadi mediator dari lingkungan bagi mahasiswa dalam proses belajar.
f. Dosen mencoba mengerti persepsi mahasiswa agar dapat melihat pola piker mahasiswa dan apa yang sudah diperoleh mahasiswa untuk pembelajaran selanjutnya.
g. Penilaian terhadap proses belajar mahasiswa merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi dosen terhadap hasil kerja mahasiswa melalui pameran karya mahasiswa, dan portofolio.
h. Lebih banyak mahasiswa belajar dalam kelompok.

2. Strategi Pembelajaran Konstruktivistik

T
erdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu belajar aktif, belajar
mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif. Belajar aktif merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar mandiri. Dosen berperan untuk menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk dapat belajar. Peran mahasiswa dan dosen dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Dosen sebagai fasilitator yang membantu memudahkan mahasiswa belajar sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi mahasiswa sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna dan yang dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan. Mahasiswa juga terlibat dalam proses belajar bersama dosen, karena mahasiswa dibimbing, diajar, dan dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif.
Belajar mandiri merupakan usaha individu mahasiswa yang otonomi untuk mencapai suatu kompetensi. Belajar mandiri memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan tujuan belajarnya, merencanakan proses belajarnya, menggunakan sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis dan melakukan kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajarnya. Ciri utama dalam belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan keterampilan dan kemampuan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri tidak tergantung
pada faktor-faktor dosen, kelas, teman dan lain-lain. Peran utama dosen dalam belajar mandiri adalah sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai otoritas dan satusatunya sumber ilmu.
Belajar kooperatif dan kolaboratif bertujuan untuk membangun pengetahuan dalam diri individu mahasiswa melalui kerja dan diskusi kelompok, sehingga terjadi pertukaran ide dari satu anggota kelompok kepada anggota kelompok lainnya. Karakteristik utama belajar kooperatif kolaboratif adalah: (1) mahasiswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa saling ketergantungan dalam proses belajar,
penyelesaikan tugas kelompok mengharuskan semua anggota kelompok bekerja bersama, (2) interaksi intensif secara tatap muka atau dimediasikan antaranggota kelompok, (3) masing-masing mahasiswa bertanggungjawab terhadap tugas yang telah disepakati, (4) mahasiswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.
Strategi kognitif merupakan proses berfikir induksi. Mahasiswa belajar untuk membangun pengetahuan berdasarkan suatu fakta atau prinsip yang diketahuinya. Gagne 1984 (dalam Paulina Pannen 2001) mengidentifikasi strategi kognitif berdasarkan alur proses instruksional mulai dari memperhatikan dosen, mengolah stimulus, mencari kembali informasi dan berfikir. Teori generative learning berasumsi bahwa mahasiswa bukan penerima informasi yang pasif, melainkan mahasiswa aktif berpartisipasi dalam proses belajar dan dalam mengkontruksi makna dari informasi yang ada di sekitarnya. Dosen mengharapkan mahasiswa menghasilkan sendiri makna dari informasi yang diperlehnya. Dosen harus menyadari bahwa implementasi model pembelajaran konstruktivistik ini tidak akan optimal jika tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat.

3. Karakteristik Mata Kuliah Dasar-dasar Bisnis

M
ata kuliah ini membahas kegiatan bisnis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas suatu bisnis. Pembahasan mencakup bisnis dan lingkungan, globalisasi ekonomi dan bisnis internasional, sistem ekonomi dunia dan bisnis, bentuk organisasi bisnis, pemilihan letak usaha, manajemen, kewirausahaan, manajemen sumberdaya manusia, motivasi kerja dan hubungan industrial, manajemen produksi, pemasaran produk dan harga, distribusi dan promosi, manajemen keuangan, dan persediaan. Bisnis adalah proses sosial yang dilakukan oleh setiap individu/kelompok melalui proses penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan keinginan suatu produk tertentu yang memiliki nilai atau memperoleh manfaat atau keuntungan.
Teori belajar konstruktivistik dipilih karena sesuai dengan karakteristik mata kuliah Dasar-dasar Bisnis yang tidak lepas dan mengacu pada kreativitas, produktivitas, dan kemadirian. Kreatif karena dunia bisnis selalu inovatif mengikuti hal-hal yang baru. Produktif karena dunia bisnis selalu mengacu pada produktivitas yaitu output lebih besar dari input. Mandiri karena mata kuliah ini terdapat pokok bahasan kewirausaaan.

C. Penutup

M
enurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang halhal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa itu sendiri. Paradigma konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi konstruktivistime, kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Terdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif.
Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide mahasiswa dalam mata kuliah bisnis hal tersebut banyak terjadi. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan. Pada mata kuliah ini bisnis data secara luas di masyarakat dan tidak sulit untuk memanipulasi bahan. Mahasiswa dipandang sebagai pemikir yang dapat dimunculkan teori-teori tentang dirinya hal ini dapat terjadi pada mata kuliah bisnis. Pengukuran proses dan hasil belajar mahasiswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran dengan cara dosen mengamati hal-hal yang sedang dilakukan mahasiswa serta melalui tugas-tugas pekerjaan hal semacam ini memang harus dilakukan oleh dosen pengampu mata kuliah bisnis. Mahasiswa banyak belajar dan bekerja di dalam kelompok.

TUGAS 9 (I) METODE BELAJAR



Judul      : METODE PEMBELAJARAN DALAM STUDENT-CENTERED LEARNING (SCL)
Penulis            : Urip Susanto












RINGKASAN 



S
CL diperlukan karena konsekuensi penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), proses pembelajaran yang sesuai dengan SCL. SCL juga diperlukan untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perubahan dalam bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi dan lingkungan, yang menyebabkan informasi dalam buku teks dan artikel-artikel yang ditulis lebih cepat kadaluarsa. Selain itu, di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang berpendidikan baik, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, proses pembelajaran harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran, yang perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
Untuk dapat menerapkan konsep ini, dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode seperti small group discussion, simulation, case study, discovery learning (DL), self directed (learning (SDL), cooperative learning (CL), collaborative learning (CBL), contextual instruction (CI), project based learning (PJBL) dan Problem based learning an Inquiry (PBL).
Untuk dapat menerapkan SCL ini dengan baik, sebelumnya kita akan bahas satu-persatu metode-metode tersebut.
a. Small Group Discussion
Diskusi merupakan salah satu elemen belajar secara aktif dan merupakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL yang lain, seperti CL, CbL, PBL dan lain-lain. Di dalam kelas, kita dapat meminta para mahasiswa untuk membuat kelompok kecil (misalnya 5 – 10 orang) untuk mendikusikan bahan yang dapat diberikan oleh dosen ataupu bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
Metode ini dapat digunakan ketika akan menggali ide, menyimpulkan poin penting, mengakses tingkat skill dan pengetahuan mahasiswa, mengkaji kembali topik di kelas sebelumnya, membandingkan teori, isu dan interprestasi, dapat juga untuk menyelesaikan masalah.
Apa yang akan di dapat oleh mahasiswa, ketika metode ini diterapkan di kelas? Mahasiswa akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik, bekerjasama untuk tugas bersama, memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif, menghormati perbedaan pendapat, mendukung pendapat dengan bukti, serta menghargai sudut pandang yang bervariasi.
b. Simulation
Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya simulasi sebagai seorang manajer atau pemimpin, mahasiswa diminta untuk membuat perusahaan fiktif, kemudian di minta untuk berperan sebagai manajer atau pemimpin dalam perusahaan tersebut.
Simulasi ini dapat berbentuk permainan peran (role playing). Permainan-permainan simulasi dan lain-lain.
Apa manfaat dari model ini? Simulasi ini dapat mengubah cara pandang (mindset) mahasiswa dengan jalan: mempraktekkan kemampuan umum (dalam komunikasi verbal dan nonverbal), mempraktekkan kemampuan khusus mempraktekkan kemampuan tim, mengembangkan kemamapuan menyelesaikan masalah, mengembangkan kemampuan empati dan lain-lain.
c. Discovery Learning (DL)
DL adalah metode belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan dosen maupun yang dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri.
Metode ini dapat dilakukan misalnya dengan memberikan tugas kepada mahasiswa untuk memperoleh bahan ajar dari sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui internet atau melalui buku, Koran, majalah dan lain sebagainya.
d. Self Directed Learning (SDL)
SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Mahasiswa sendiri yang merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan.
Peran dosen dalam metode ini hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut.
Manfaat dari metode ini adalah menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri. Individu mhasiswa didorong untuk bertanggung jawab terhdapa semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya.
Untuk dapat menerapkan metode ini, sebelumnya kita harus dapat memenuhi asumsi bahwa kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.
e. Cooperative Learning (CL)
CL merupakan metode belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri dari atas beberapa orang mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang beragam.
Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen. Mahasiswa hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh dosen.
CL bermanfaat untuk membantu menumbuhkan dan mengasah kebiasaan belajar aktif pada diri mahasiswa, rasa tanggungjawab individu dan kelompok mahasiswa, kemampuan dan ketrampilan bekerjasama antar mahasiswa, dan keterampilan sosial mahasiswa.
f. Collaborative Learning (CbL)
CbL adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerja sama antar mahasiswa yang didasarkan pada consensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari dosen dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui consensus bersama antar anggota kelompok.
g. Contextual Instruction (CI)
CI adalah konsep belajar yang membantu dosen mengaitkan isi mata kuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja professional atau manajerial, entrepreneur, maupun investor.
Contoh: apabila kompetensi yang dituntut matakuliah adalah mahasiswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses transaksi jual beli, maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh dan mendiskusikannya. Mahasiswa juga diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perdagangan untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, sebagai pembeli misalnya.
h. Project-based Learning (PjBL)
PjBL adalah metode belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan ketrampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati
i. Problem-based Learning/Inquiry (PBL/I)
PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah an mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.
Pada umumnya, terdapat empat langkah yang perlu dilakukan mahassiwa dalam PBL/I, yaitu:
a. Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa kompetensi yang dituntut mata kuliah, dari dosennya.
b.  Melakukan pencarian data dan infromasi yang relevan untuk memecahkan masalah
c.  Menata data dan mengaitkan data dengan masalah
d. Menganalisis strategi pemecahan masalah.
Sekarang, kita sudah mendapatkan sedikit gambaran mengenai metode-metode pembelajaran dalam SCL, selanjutnya kita dapat mengembangkan ide kita masing-masing untuk dapat menerapkan metode-metode tersebut di dalam kelas perkuliahan yang kita ampu. Tentu saja tidak semua metode-metode tersebut dapat kita terapkan, tergantung juga pada mata kuliah yang kita ajarkan. Namun demikian kita dapat menerapkan metode tersebut sesuai dengan mata kuliah yang kita ajarkan.
Diharapkan juga setelah mencoba menggunakan salah satu metode-metode di atas kita dapat mengevaluasi hasil sebelum dan sesudah. Apakah terdapat perubahan dalam hal penilaian mahasiswa terhadap dosen, penilaian dosen terhadap mahasiswa, ataupun sikap mahasiswa dalam menerima perkuliahan di kelas.
Jika Bapak/Ibu dosen sudah menerapkan salah satu atau beberapa metode di atas, kemudian mengevaluasi dan mendapatkan suatu kemajuan atau keberhasilan, diharapkan dapat membagikan atau mensharingkan pengalamannya kepada dosen-dosen lain, siapa tahu kita mendapat insight dalam memajukan metode pembelajaran di kelas.

TUGAS 8 (II)



Judul          : Instructional Technology And Media For Learning: Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar
Penulis            : Sharon E. Smaldino, Deborah L. Lowther, James D. Russel











 RINGKASAN


B
uku panduan ini berisi tentang teknologi instruksional yang menyediakan sumber daya untuk guru dan siswa untuk membuat hasil yang maksimal dari teknologi baru dan di munculkan di kelas dalam bentuk media.
Edisi kesembilan ini memberikan fokus baru pada pembelajaran abad dua puluh satu  dan menyediakan informasi baru dan diperbaharui di tool web 2.0 dan diperluas dalam bentuk website dan Buku ini dilengkapi klip video dengan panduan kegiatan / DVD sebagai  sumber daya pendidikan. Buku ini  mencakup semua aspek audio, video, komputer dan teknologi pembelajaran jarak jauh dan menyediakan berbagai latihan, pelajaran sampel dan sumber daya terpadu. menyediakan akses ke sumber daya guru, termasuk tes dan slide PowerPoint. Teknologi pembelajaran tumbuh kembang dari praktik dan gerakan komunikasi audio visual. Pada mulanya teknologi ini dilihat sebagai suatu teknologi pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau pengajaran dengan alat bantu audiovisual.
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.
Selain itu, buku ini juga dipenuhi dengan contoh-contoh yang diambil dari situasi otentik pendidikan dasar dan menengah, melukiskan gambaran yang jelas tentang teknologi dan media yang meningkatkan dan mendukung pengajaran dan pembelajaran didukung dengan video, refleksi dipandu petunjuk, dan rencana pelajaran yang menunjukkan integrasi teknologi yang kuat dan perencanaan pelajaran. Selain mempersiapkan pendidik dengan praktik terbaik untuk menggabungkan teknologi dan media untuk memenuhi kebutuhan peserta didik di abad 21, buku ini meliputi cakupan yang kuat dari keprihatinan hak cipta,  sumber daya yang murah dan  media, serta teori belajar dan model instruksional. Pembaruan edisi sembilan mencerminkan kecenderungan percepatan menuju digitalisasi informasi dan penggunaan teknologi di sekolah, terutama di era Web 2.0. Edisi sembilan ini juga membahas interaksi antara peran guru, koordinator teknologi, dan media sekolah spesialis, semua tim yang saling melengkapi dan saling bergantung di sekolah.
Buku ini berbasis model ASSURE, dengan pola pikiran terpadu bagi guru untuk mengaplikasikan perangkat sekarang dan masa depan seperti komputer, internet, perangkat belajar jarak jauh dan teknologi audio visual. Disampaikan pula video berbasis kelas yang menggambarkan penggunaan efektif dari teknologi pendukung.
Buku ini menunjukkan bagaimana seluruh teknologi dan format media dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran kelas dengan menggunakan model ASSURE untuk perencanaan pelajaran. Ditujukan bagi para pendidik diseluruh level, untuk membantu pendidik menyertakan teknologi dan media ke dalam pengajaran. Dengan ciri yang meyakinkan, model integrasi teknologi di dalam kelas, buku ini juga memberikan sebuah kerangka kerja yang mengajarkan kita untuk menerapkan apa yang  telah kita pelajari tentang komputer, multimedia, internet, pembelajaran jarak jauh, dan teknologi audio / visual pada abad ke 21. Metode mengajar untuk meningkatkan pembelajaran siswa berubah secepat teknologi muncul. Apapun, penggunaan media pembelajaran berbagai bentuk dan teknologi dalam pengajaran, baik baru atau tua, dapat memiliki dampak yang mendalam pada siswa belajar.

Rangkuman 12 BAB buku Instructional Technology And Media For Learning: Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar

Bab 1 : Teknologi dan Media : Memudahkan Pembelajaran

B
ab ini di mulai dengan  dasar-dasar penting dalam pembelajaran tentang teknologi dan media karena berpengaruh pada kegiatan belajar.  Beberapa jenis belajar dan perspektif dalam kegiatan belajar. Bab ini juga membahas peran teknologi dan media dalam belajar baik dari perspektif guru maupun perspektif siswa.  Para siswa dapat belajar dalam berbagai lingkungan, dari ruang kelas formal hingga belajar informal yang mandiri.  Pendidikan jarak jauh dan format belajar mandiri bisa menjadi wahana bagi penyediaan pengajaran. Baik itu pengajaran tatap muka  di ruang kelas maupun pendidikan jarak jauh sama-sama tidak efektif terlibat dengan bahan-bahan dan memiliki kesempatan  berlatih dengan umpan balik.  Bab ini juga memperkenalkan berbagai strategi untuk meningkatkan pembelajaran.

BAB 2 : Strategi – Strategi Pengajaran : Memadukan Teknologi Dan Media

D
alam bab ini, dibahas empat teori belajar utama yang berdampak pada strategi pengajaran yang digunakan dalam ruang kelas.  Terdapat dua kelompok strategi pengajaran yang berpusat pada guru dan yang berpusat pada siswa.  Sementara tidak ada satu pun cara yang paling tepat untuk mengajar, guru memiliki berbagai macam strategi pengajaran yang bisa di gunakan untuk membantu memudahkan pembelajaran siswa.  Para guru perlu membuat keputusan tentang kebutuhan belajar para siswa mereka dan memilih strategi pengajaran  yang paling cocok untuk membantu para siswa mencapai hasil belajar.

BAB 3 : Prinsip-Prinsip Visual : Merancang Materi yang Efektif

B
ab ini membahas pentingnya visual untuk belajar, di mulai dengan konsep literasi ( pemahaman) visual dan menyajikan aspek-aspek penting dari memahami dan membuat visual.  Para siswa lebih baik belajar ketika visual  yang di gunakan dalam instruksi, selain itu bab ini juga membahas berbagai peran yang dijalankan visual dan menjelaskan enam jenis visual.  Bab ini memberikan panduan penting baik untuk unsur visual maupun verbal, peranti yang di jadikan di sini akan membantu anda dan siswa dalam merencanakan, membuat dan menagkap visual.

BAB 4 : Model Assure : Menciptakan Pengalaman Belajar

B
ab ini memperkenalkan model Assure dan memperlihatkan bagaimana model itu bisa digunakan untuk merencanakan mata pelajaran yang secara efektif menggunakan teknologi dan media untuk mendukung dan meningkatkan pembelajaran siswa, Model itu menggabungkan bagian yang paling penting dari perencanaan pengajaran dengan membahas pertanyaan berikut :
1.             Siapakan audiens anda?
2.             Tujuan belajar apa yang anda akan gunakan agar sesuai dengan standar?
3.             Strategi, teknologi, media dan material yang mana yang akan anda dan pembelajar gunakan?
4.             Bagaimana anda dan para pembelajar  anda bisa memanfaatkan materi dengan sebaik-baiknya?
5.             Bagaimana anda melibatkan para pembelajar dalam belajar?
6.             Bagaimana anda mengevaluasi baik pembelajar anda maupun pengajaran anda?
7.             Apa yang sebaikanya anda revisi jika anda menjalankan mata pelajaran lagi.
                                                  BAB 5 : Komputer dan Multimedia: Mengakses dunia Digital

K
omputer sejauh ini merupakan perangkat  teknologi pengajaran  paling umum dan paling penting yang di gunakan dalam pendidikan.  Para siswa bisa menggunakan komputer untuk pengalaman belajar yang efektif dan langsung dirasakan. Guru bisa menggunakan komputer untuk membantu mengumpulkan informasi  mengenai kemajuan siswa di ruang kelas dan untuk menyiapkan material  pengajaran.  Entah itu memiliki satu atau beberapa kompputer di ruang kelas.  Kita bisa secara efektif memadukanya  ke dalam pembelajaran  siswa.  Banyak sekolah memiliki lab komputer , tetapi kecenderungan adalah menjadikan kereta laptop tersedia sehingga ruang kelas apapun dapat di ubah menjadi seperti sebuah lab.  Teknologi perangkat genggam juga berhasil di gunakan oleh para siswa sebagai perangkat instruksional.
BAB 6 : Pendidikan Jarak Jauh : Menguhubungkan para Pelajar Melampaui Ruang Kelas

P
endidikan jarak jauh bukanlah hal baru.  Baik audio dan televisi merupakan sumber daya yang telah di gunakan bertahun-tahun dalam situasi  pengajaran jarak jauh.  Sejalan dengan kemajuan teknologi, sumber daya ini telah di gabungkan ke dalam lebih banyak kesempatan belajar bagi para siswa.  Salah satu keuntungan utama dari memiliki akses pada sumber daya audio dan televisi adalah bahwa guru bisa memperkuat belajar siswa dan membawa sumber daya tambahan  ke dalam ruang kelas.  Gabungan antara ruang kelas umumnya dan sumber daya pendidikan jarak jauh telah memungkinkan bagi siswa dari seluruh tingkat kemampuan untuk meningkatkan pendidikan mereka.

BAB 7 : Belajar Online : Belajar Melalui Jaringan Internet dan Komputer

K
esempatan belajar online terus meluas.  Lebih banyak sumber daya yang tersedia bagi para siswa  dan guru untuk meningkatkan dan memperluas kegiatan ruang kelas. Guru tidak lagi terbatas pada material yang mereka miliki dalam ruang kelas mereka atau dalam pusat media sekolah.  Mereka bisa mengakses sumber daya dari seluruh dunia.  Mereka bisa memberikan siswa dengan pengalaman seperti webquest yang membantu mereka untuk belajar menggunakan internet sebagai sumber informasi.  Para siswa bisa menjangkau siswa lainya dan para ahli untuk bertugas gagasan.  Internet telah di membuka  ruang kelas pada pelimpahan informasi di seluruh dunia

BAB 8 : Material dan Display Pengajaran : Menggunakan Media untuk Melibatkan Pembelajar

M
ateri pengajaran berwujud dalam berbagai format.  Dari salah satu ujung dari kontinum konkret absatrak hingga ke ujung  satunya.  Dari objek ril hingga material cetakan.  Mereka bisa menjadi alat yang efektif untuk melibatkan  siswa dan memudahkan belajar jika di gunakan  sebagaimana mestinya.  Mereka bisa di pajang dalam berbagai cara pula. Bab ini menelusuri penggunaan materi tersebut dalam pusat belajar, modul pengajaran dan pameran.  Kami telah membahas keuntungan dan keterbatasan mereka serta kapan dan bagaimana menggunakannya secara efektif.

BAB 9 : Visual : Meningkatkan Belajar dengan Visual

D
alam bab ini di bahas sifat dan integrasi berbagai visual dalam belajar.  Bab ini membahas tentang berbagai jenis visual  terproyeksi maupun non terproyeksi.  Visual non terproyeksi, peranti lunak presentasi, visual digital, kamera dokumen dan OHP seluruhnya memiliki keuntungan dan keterbatasan serta teknik untuk memadukan dan memanfaatkan mereka di ruang kelas.  Visual merupakan salah satu alat penting bagi pembelajaran dan seharusnya digunakan semestinya baik oleh anda maupun siswa kita.
                         

BAB 10 : Audio : Menyimak dan Belajar

B
ab ini menekankan pentingnya audio dalam pengajaran dan belajar, menelusuri berbagai cara untuk menggunakan audio dalam ruang kelas, dengan menjelaskan  baik format audio digital mapun analog.  Di sepanjang bab ini telah membahas banyak teknik untuk memilih berbagai format dan material audio, serta teknik untuk membuat  dan menyunting material audio.  Media audio menyajikan keuntungan dan keterbatasan yang mencolok.  Bab ini juga membahas proses mendengar dan menyimak cukup terperinci, termasuk teknik-teknik untuk mengembangkan kemampuan menyimak.
                                                                                                                
BAB 11 : Video : Meningkatkan Belajar dengan Gambar Bergerak

P
ara siswa saat ini terbiasa belajar melalui televisi dan media bergerak lainnya.  Ada banyak aplikasi video yang menarik di ruang kelas.  Video menyediakan karakteristik khusus yang bisa di sediakan  dalam belajar terutama yang melibatkan gambar be rgerak.  Bab ini telah menyajikan atribut-atribut  khusus video  bersama dengan keuntungan  dan keterbatasanya, bagaimana memilih, memproduksi  dan memadukan video ke dalam kegiatan belajar siswa. Memproduksi video bisa bersifat pendidikan bagi para siswa dan memungkinkan peran guru untuk menyajikan materi
                             
BAB 12 : Tren dalam Teknologi dan Media : Melihat kedepan              

B
ab ini menjelaskan kecenderungan dalam teknologi dan media yang telah memiliki dampak yang signifikan pada sekolah dan memberikan penampakan sekilas mengenai sekolah di masa depan.Teknologi dan media pendidikan memberikan perangkat untuk melibatkan siswa dalam belajar.  Sebagai seorang guru, harus siap memilih perangkat terbaik untuk siswa.  Perangkat semacam itu menawarkan kemungkinan hebat  untuk pengembangan pembelajaran.  Guru bagaimanapun juga berbeda-beda dalam memadukan teknologi dan media ke dalam proses ini.  Bab ini di akhiri dengan menjelaskan masa depan pendidik dalam bidang ini. Untuk membantu pendidik terus di perbarui, penjelasan organisasi profesional dan jurnal profesional di sertakan.  Pendidik akan menjadi bagian dalam menentukan penggunaan teknologi dan media di masa depan--- manfaatkan semua itu bagi pembelajaran ASSURE