Kamis, 26 Juni 2014

TUGAS 9 (II) TEORI BELAJAR



Judul              : TEORI BELAJAR















RINGKASAN
 
A.      Konsep Pembelajaran Konstruktivistik

K
onstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan). Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui aktivitas seseorang. Teori belajar konstruktivistik biasanya dimulai dari karakteristik manusia masa depan yang diharapkan, konstruksi pengetahuan, proses belajar menurut teori konstruktivistik.

a. Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan.

Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan dalam rangka membangun sumber daya manusia adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggungjawab terhadap risiko dalam pengambilan keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri yaitu proses to learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya. Kepekaan artinya ketajaman baik dalam arti kemampuan berfikirnya maupun kemudahan tersentuh hati nuraninya dalam melihat dan merasakan sesuatu mulai dari kepentingan orang lain sampai kelestarian lingkungan sebagai ciptaan Allah SwT. Kemandirian artinya kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri di samping proses dan hasil berfikir orang lain serta keberanian bertindak sesuai dengan kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan tindakan sendiri. Kolaborasi artinya di samping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri, individu tersebut juga mampu bekerjasama dengan individu lainnya dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama.

b. Proses Mengkonstruksi Pengetahuan

Untuk memperbaiki pendidikan harus diketahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana cara pembelajarannya. Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi (bentukan) dari dirinya. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia, sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Bila pendidik bermaksud menstranfer konsep, ide dan pengetahuan tentang sesuatu kepada siswa, pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh mahasiswa melalui pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri. Ini cocok sekali untuk pengetahuan bisnis karena setiap orang pada zaman sekarang tidak terlepas dari bisnis dalam hidupnya, entah itu sebagai produsen paling tidak sebagai konsumen.
Manusia mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya, melihat, mendengar, menjamah, membau, merasakan. Pengetahuan bukan sesuatu yang ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Von Galserfeld (dalam Paulina Pannen 2001) mengemukakan ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yakni:

1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan untuk mengingat dan mengungkapkan pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi mahasiswa dengan pengalaman tersebut.
2)         Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan membandingkan sangat penting agar mahasiswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta
melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya.
3)         Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada yang lain. Melalui suka dan tidak suka inilah muncul penilaian bagi pembentukan pengetahuaannya.

c. Proses Pembelajaran Menurut Teori Konstruktivistik

Secara konseptual proses pembelajaran jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri mahasiswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh setiap kejadian sebagai pemberian makna oleh mahasiswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan sendiri oleh mahasiswa melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya di kelas maupun di luar budaya kelas. Dalam proses pembelajaran ini melibatkan: peran mahasiswa, peran dosen, sarana pembelajaran, dan evaluasi

1)        Peranan mahasiswa

Menurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan individu yang belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa itu sendiri. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada mahasiswa.
Paradigma konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi kontruktivistik, kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Mahasiswalah yang bertanggungjawab atas hasil belajarnya. Mahasiswa yang membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan cara mencari makna, membandingkannya dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikan ketidaksamaan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang diperlukan dalam pengalaman baru. Setiap mahasiswa mempunyai cara yang cocok untuk mengkontruksikan pengetahuannya yang kadang-kadang sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Dalam hal ini sangat penting bahwa mahasiswa dimungkinkan untuk mencoba bermacam-macam cara belajar yang cocok dan juga penting bahwa dosen menciptakan bermacam-macam situasi dan metode yang membantu mahasiswa. Satu pembelajaran saja tidak akan banyak membantu mahasiswa.

2) Peranan Dosen

Dalam pembelajaran konstruktivistik, dosen atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh mahasiswa berjalan lancar. Pendidik
tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu mahasiswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dosen dituntut untuk lebih memahami jalan fikiran atau cara pandang mahasiswa dalam belajar. Dosen tidak mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya. Menurut prinsip pembelajaran konstruktivistik, seorang pengajar atau dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mahasiswa berjalan dengan baik yaitu;
a) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan mahasiswa bertanggungjawab, memberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang dosen
b) Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan mahasiswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka, menyediakan sarana secara produktif menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar mahasiswa. Dosen perlu menyemangati mahasiswa dan menyediakan pengalaman konflik.
c) Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran mahasiswa berjalan atau tidak. Dosen mempertanyakan apakah pengetahuan mahasiswa dapat diberlakukan untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Dosen membantu
mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan mahasiswa. Menurut Paulina Pannen dkk (1991) agar faktor dosen berperan optimal dalam pembelajaran.
a) Dosen perlu banyak berinteraksi dengan mahasiswa untuk lebih mengerti hal-hal yang sudah diketahui dan dipikirkan mahasiswa
b) Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan di kelas bersama sehingga mahasiswa sungguh terlibat
c) Dosen perlu mengerti pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhanmahasiswa. Hal ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah mahasiswa
d) Diperlukan keterlibatan dosen bersama mahasiswa yang sedang belajar dan dosen perlu menumbuhkan kepercayaan mahasiswa bahwa mereka dapat belajar.
e) Dosen perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran mahasiswa karena kadang kala mahasiswa berfikir berdasarkan pengandaian yang belum tentu diterima oleh dosen.

3) Sarana belajar

Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas mahasiswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya sendiri tentang sesuatu yang dihadapi.
Dengan cara demikian mahasiswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir kritis, kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.

4) Evaluasi Belajar

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pengalaman. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Evaluasi belajar pada pandangan konstruktivistik menggunakan goal free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode goal free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan konstruktivistik. Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkontruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi seperti penemuan, juga sintesis dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.
Brooks & Brooks 1993 (dalam Paulina Pannen 2001) situasi pembelajaran konstruktivistik dalam kelas sebagai berikut:
a. Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh, dengan penjelasan tentang keterkaitan antarbagian, dengan penekanan pada konsep-konsep utama.
b. Pertanyaan mahasiswa dan konstruksi jawaban mahasiswa adalah penting.
c. Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materimateri yang dapat dimanipulasi langsung oleh mahasiswa.
d. Mahasiswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan.
e. Dosen bersikap interaktif dalam pembelajaran, menjadi mediator dari lingkungan bagi mahasiswa dalam proses belajar.
f. Dosen mencoba mengerti persepsi mahasiswa agar dapat melihat pola piker mahasiswa dan apa yang sudah diperoleh mahasiswa untuk pembelajaran selanjutnya.
g. Penilaian terhadap proses belajar mahasiswa merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi dosen terhadap hasil kerja mahasiswa melalui pameran karya mahasiswa, dan portofolio.
h. Lebih banyak mahasiswa belajar dalam kelompok.

2. Strategi Pembelajaran Konstruktivistik

T
erdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu belajar aktif, belajar
mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif. Belajar aktif merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar mandiri. Dosen berperan untuk menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk dapat belajar. Peran mahasiswa dan dosen dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Dosen sebagai fasilitator yang membantu memudahkan mahasiswa belajar sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi mahasiswa sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna dan yang dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan. Mahasiswa juga terlibat dalam proses belajar bersama dosen, karena mahasiswa dibimbing, diajar, dan dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif.
Belajar mandiri merupakan usaha individu mahasiswa yang otonomi untuk mencapai suatu kompetensi. Belajar mandiri memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan tujuan belajarnya, merencanakan proses belajarnya, menggunakan sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis dan melakukan kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajarnya. Ciri utama dalam belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan keterampilan dan kemampuan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri tidak tergantung
pada faktor-faktor dosen, kelas, teman dan lain-lain. Peran utama dosen dalam belajar mandiri adalah sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai otoritas dan satusatunya sumber ilmu.
Belajar kooperatif dan kolaboratif bertujuan untuk membangun pengetahuan dalam diri individu mahasiswa melalui kerja dan diskusi kelompok, sehingga terjadi pertukaran ide dari satu anggota kelompok kepada anggota kelompok lainnya. Karakteristik utama belajar kooperatif kolaboratif adalah: (1) mahasiswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa saling ketergantungan dalam proses belajar,
penyelesaikan tugas kelompok mengharuskan semua anggota kelompok bekerja bersama, (2) interaksi intensif secara tatap muka atau dimediasikan antaranggota kelompok, (3) masing-masing mahasiswa bertanggungjawab terhadap tugas yang telah disepakati, (4) mahasiswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.
Strategi kognitif merupakan proses berfikir induksi. Mahasiswa belajar untuk membangun pengetahuan berdasarkan suatu fakta atau prinsip yang diketahuinya. Gagne 1984 (dalam Paulina Pannen 2001) mengidentifikasi strategi kognitif berdasarkan alur proses instruksional mulai dari memperhatikan dosen, mengolah stimulus, mencari kembali informasi dan berfikir. Teori generative learning berasumsi bahwa mahasiswa bukan penerima informasi yang pasif, melainkan mahasiswa aktif berpartisipasi dalam proses belajar dan dalam mengkontruksi makna dari informasi yang ada di sekitarnya. Dosen mengharapkan mahasiswa menghasilkan sendiri makna dari informasi yang diperlehnya. Dosen harus menyadari bahwa implementasi model pembelajaran konstruktivistik ini tidak akan optimal jika tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat.

3. Karakteristik Mata Kuliah Dasar-dasar Bisnis

M
ata kuliah ini membahas kegiatan bisnis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas suatu bisnis. Pembahasan mencakup bisnis dan lingkungan, globalisasi ekonomi dan bisnis internasional, sistem ekonomi dunia dan bisnis, bentuk organisasi bisnis, pemilihan letak usaha, manajemen, kewirausahaan, manajemen sumberdaya manusia, motivasi kerja dan hubungan industrial, manajemen produksi, pemasaran produk dan harga, distribusi dan promosi, manajemen keuangan, dan persediaan. Bisnis adalah proses sosial yang dilakukan oleh setiap individu/kelompok melalui proses penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan keinginan suatu produk tertentu yang memiliki nilai atau memperoleh manfaat atau keuntungan.
Teori belajar konstruktivistik dipilih karena sesuai dengan karakteristik mata kuliah Dasar-dasar Bisnis yang tidak lepas dan mengacu pada kreativitas, produktivitas, dan kemadirian. Kreatif karena dunia bisnis selalu inovatif mengikuti hal-hal yang baru. Produktif karena dunia bisnis selalu mengacu pada produktivitas yaitu output lebih besar dari input. Mandiri karena mata kuliah ini terdapat pokok bahasan kewirausaaan.

C. Penutup

M
enurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang halhal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa itu sendiri. Paradigma konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi konstruktivistime, kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Terdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif.
Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide mahasiswa dalam mata kuliah bisnis hal tersebut banyak terjadi. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan. Pada mata kuliah ini bisnis data secara luas di masyarakat dan tidak sulit untuk memanipulasi bahan. Mahasiswa dipandang sebagai pemikir yang dapat dimunculkan teori-teori tentang dirinya hal ini dapat terjadi pada mata kuliah bisnis. Pengukuran proses dan hasil belajar mahasiswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran dengan cara dosen mengamati hal-hal yang sedang dilakukan mahasiswa serta melalui tugas-tugas pekerjaan hal semacam ini memang harus dilakukan oleh dosen pengampu mata kuliah bisnis. Mahasiswa banyak belajar dan bekerja di dalam kelompok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar