Judul : TEORI BELAJAR
RINGKASAN
A.
Konsep Pembelajaran
Konstruktivistik
K
|
onstruktivisme
merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa
pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan). Pengetahuan selalu merupakan
akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui aktivitas
seseorang. Teori belajar konstruktivistik biasanya dimulai dari karakteristik manusia
masa depan yang diharapkan, konstruksi pengetahuan, proses belajar menurut teori
konstruktivistik.
a. Karakteristik
manusia masa depan yang diharapkan.
Karakteristik
manusia masa depan yang diharapkan dalam rangka membangun sumber daya manusia
adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggungjawab
terhadap risiko dalam pengambilan keputusan, mengembangkan segenap aspek
potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri
yaitu proses to learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan
masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya.
Kepekaan artinya ketajaman baik dalam arti kemampuan berfikirnya maupun
kemudahan tersentuh hati nuraninya dalam melihat dan merasakan sesuatu mulai
dari kepentingan orang lain sampai kelestarian lingkungan sebagai ciptaan Allah
SwT. Kemandirian artinya kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri di
samping proses dan hasil berfikir orang lain serta keberanian bertindak sesuai
dengan kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan tindakan sendiri.
Kolaborasi artinya di samping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri,
individu tersebut juga mampu bekerjasama dengan individu lainnya dalam
meningkatkan mutu kehidupan bersama.
b. Proses
Mengkonstruksi Pengetahuan
Untuk
memperbaiki pendidikan harus diketahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana
cara pembelajarannya. Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi (bentukan)
dari dirinya. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang
sedang dipelajari melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap
objek, pengalaman maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah
ada dan tersedia, sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah
sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat
mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Bila pendidik
bermaksud menstranfer konsep, ide dan pengetahuan tentang sesuatu kepada siswa,
pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh mahasiswa
melalui pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri. Ini cocok sekali untuk
pengetahuan bisnis karena setiap orang pada zaman sekarang tidak terlepas dari
bisnis dalam hidupnya, entah itu sebagai produsen paling tidak sebagai
konsumen.
Manusia
mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya, melihat, mendengar, menjamah,
membau, merasakan. Pengetahuan bukan sesuatu yang ditentukan melainkan sesuatu
proses pembentukan. Von Galserfeld (dalam Paulina Pannen 2001) mengemukakan ada
beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yakni:
1) Kemampuan
mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan untuk mengingat dan
mengungkapkan pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan
interaksi mahasiswa dengan pengalaman tersebut.
2) Kemampuan membandingkan dan mengambil
keputusan akan kesamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan membandingkan sangat
penting agar mahasiswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari
pengalaman-pengalaman khusus serta
melihat kesamaan
dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi
pengetahuannya.
3) Kemampuan untuk lebih menyukai suatu
pengalaman yang satu daripada yang lain. Melalui suka dan tidak suka inilah
muncul penilaian bagi pembentukan pengetahuaannya.
c. Proses
Pembelajaran Menurut Teori Konstruktivistik
Secara
konseptual proses pembelajaran jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan
sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri mahasiswa,
melainkan sebagai pemberian makna oleh setiap kejadian sebagai pemberian makna
oleh mahasiswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang
bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih
dipandang dari segi prosesnya dari segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang
terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut
tidak dilakukan sendiri oleh mahasiswa melainkan melalui interaksi dalam jaringan
sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya di kelas maupun di luar budaya
kelas. Dalam proses pembelajaran ini melibatkan: peran mahasiswa, peran dosen,
sarana pembelajaran, dan evaluasi
1)
Peranan mahasiswa
Menurut
pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan individu yang belajar. Ia harus
aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang
hal-hal yang dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk
menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun
yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa
itu sendiri. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya kendali
belajar sepenuhnya ada pada mahasiswa.
Paradigma
konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki kemampuan
awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi kontruktivistik,
kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan
membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk
mengumpulkan fakta. Mahasiswalah yang bertanggungjawab atas hasil belajarnya.
Mahasiswa yang membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan cara mencari
makna, membandingkannya dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikan
ketidaksamaan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang diperlukan dalam
pengalaman baru. Setiap mahasiswa mempunyai cara yang cocok untuk
mengkontruksikan pengetahuannya yang kadang-kadang sangat berbeda dengan teman-teman
yang lain. Dalam hal ini sangat penting bahwa mahasiswa dimungkinkan untuk
mencoba bermacam-macam cara belajar yang cocok dan juga penting bahwa dosen
menciptakan bermacam-macam situasi dan metode yang membantu mahasiswa. Satu pembelajaran
saja tidak akan banyak membantu mahasiswa.
2) Peranan Dosen
Dalam
pembelajaran konstruktivistik, dosen atau pendidik berperan membantu agar
proses pengkonstruksian pengetahuan oleh mahasiswa berjalan lancar. Pendidik
tidak
mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu mahasiswa untuk
membentuk pengetahuannya sendiri. Dosen dituntut untuk lebih memahami jalan fikiran
atau cara pandang mahasiswa dalam belajar. Dosen tidak mengklaim bahwa satu-satunya
cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya. Menurut
prinsip pembelajaran konstruktivistik, seorang pengajar atau dosen berperan
sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mahasiswa berjalan
dengan baik yaitu;
a) Menyediakan
pengalaman belajar yang memungkinkan mahasiswa bertanggungjawab, memberi kuliah
atau ceramah bukanlah tugas utama seorang dosen
b) Menyediakan
atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan mahasiswa dan
membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide
ilmiah mereka, menyediakan sarana secara produktif menyediakan kesempatan dan
pengalaman yang paling mendukung proses belajar mahasiswa. Dosen perlu
menyemangati mahasiswa dan menyediakan pengalaman konflik.
c) Memonitor,
mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran mahasiswa berjalan atau tidak.
Dosen mempertanyakan apakah pengetahuan mahasiswa dapat diberlakukan untuk
menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Dosen membantu
mengevaluasi
hipotesis dan kesimpulan mahasiswa. Menurut Paulina Pannen dkk (1991) agar
faktor dosen berperan optimal dalam pembelajaran.
a)
Dosen perlu banyak berinteraksi dengan mahasiswa untuk lebih mengerti hal-hal yang
sudah diketahui dan dipikirkan mahasiswa
b)
Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan di kelas bersama
sehingga mahasiswa sungguh terlibat
c)
Dosen perlu mengerti pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhanmahasiswa.
Hal ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah
mahasiswa
d)
Diperlukan keterlibatan dosen bersama mahasiswa yang sedang belajar dan dosen perlu
menumbuhkan kepercayaan mahasiswa bahwa mereka dapat belajar.
e)
Dosen perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai
pemikiran mahasiswa karena kadang kala mahasiswa berfikir berdasarkan
pengandaian yang belum tentu diterima oleh dosen.
3) Sarana
belajar
Pendekatan
konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah
aktivitas mahasiswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu
seperti bahan, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk
membantu pembentukan tersebut. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan
pendapat dan pemikirannya sendiri tentang sesuatu yang dihadapi.
Dengan
cara demikian mahasiswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir kritis,
kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
4) Evaluasi
Belajar
Pandangan
konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung
munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi
pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pengalaman. Pandangan
konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Evaluasi
belajar pada pandangan konstruktivistik menggunakan goal free evaluation,
yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik.
Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode goal free.
Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik memerlukan
proses pengalaman kognitif bagi tujuan konstruktivistik. Bentuk-bentuk evaluasi
konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkontruksi pengetahuan
yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi seperti penemuan, juga
sintesis dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.
Brooks
& Brooks 1993 (dalam Paulina Pannen 2001) situasi pembelajaran konstruktivistik
dalam kelas sebagai berikut:
a.
Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh, dengan penjelasan tentang keterkaitan
antarbagian, dengan penekanan pada konsep-konsep utama.
b.
Pertanyaan mahasiswa dan konstruksi jawaban mahasiswa adalah penting.
c.
Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materimateri
yang dapat dimanipulasi langsung oleh mahasiswa.
d.
Mahasiswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia
dan kehidupan.
e.
Dosen bersikap interaktif dalam pembelajaran, menjadi mediator dari lingkungan bagi
mahasiswa dalam proses belajar.
f.
Dosen mencoba mengerti persepsi mahasiswa agar dapat melihat pola piker mahasiswa
dan apa yang sudah diperoleh mahasiswa untuk pembelajaran selanjutnya.
g.
Penilaian terhadap proses belajar mahasiswa merupakan bagian integral dalam pembelajaran,
dilakukan melalui observasi dosen terhadap hasil kerja mahasiswa melalui
pameran karya mahasiswa, dan portofolio.
h.
Lebih banyak mahasiswa belajar dalam kelompok.
2.
Strategi Pembelajaran Konstruktivistik
T
|
erdapat beberapa
strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu belajar aktif, belajar
mandiri,
belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran
kognitif. Belajar aktif merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem
pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar mandiri. Dosen
berperan untuk menyediakan sarana bagi mahasiswa untuk dapat belajar. Peran
mahasiswa dan dosen dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Dosen
sebagai fasilitator yang membantu memudahkan mahasiswa belajar sebagai nara
sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi mahasiswa sebagai
pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna dan
yang dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan. Mahasiswa juga terlibat
dalam proses belajar bersama dosen, karena mahasiswa dibimbing, diajar, dan
dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas
suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara
komunikatif.
Belajar
mandiri merupakan usaha individu mahasiswa yang otonomi untuk mencapai suatu
kompetensi. Belajar mandiri memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
menentukan tujuan belajarnya, merencanakan proses belajarnya, menggunakan sumber
belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis dan melakukan
kegiatan yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajarnya. Ciri utama dalam
belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan keterampilan dan kemampuan
mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri tidak tergantung
pada
faktor-faktor dosen, kelas, teman dan lain-lain. Peran utama dosen dalam
belajar mandiri adalah sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai
otoritas dan satusatunya sumber ilmu.
Belajar
kooperatif dan kolaboratif bertujuan untuk membangun pengetahuan dalam diri
individu mahasiswa melalui kerja dan diskusi kelompok, sehingga terjadi pertukaran
ide dari satu anggota kelompok kepada anggota kelompok lainnya. Karakteristik
utama belajar kooperatif kolaboratif adalah: (1) mahasiswa belajar dalam satu
kelompok dan memiliki rasa saling ketergantungan dalam proses belajar,
penyelesaikan
tugas kelompok mengharuskan semua anggota kelompok bekerja bersama, (2)
interaksi intensif secara tatap muka atau dimediasikan antaranggota kelompok,
(3) masing-masing mahasiswa bertanggungjawab terhadap tugas yang telah disepakati,
(4) mahasiswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.
Strategi
kognitif merupakan proses berfikir induksi. Mahasiswa belajar untuk membangun
pengetahuan berdasarkan suatu fakta atau prinsip yang diketahuinya. Gagne 1984
(dalam Paulina Pannen 2001) mengidentifikasi strategi kognitif berdasarkan alur
proses instruksional mulai dari memperhatikan dosen, mengolah stimulus, mencari
kembali informasi dan berfikir. Teori generative learning berasumsi
bahwa mahasiswa bukan penerima informasi yang pasif, melainkan mahasiswa aktif
berpartisipasi dalam proses belajar dan dalam mengkontruksi makna dari
informasi yang ada di sekitarnya. Dosen mengharapkan mahasiswa menghasilkan
sendiri makna dari informasi yang diperlehnya. Dosen harus menyadari bahwa
implementasi model pembelajaran konstruktivistik ini tidak akan optimal jika
tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat.
3.
Karakteristik Mata Kuliah Dasar-dasar Bisnis
M
|
ata kuliah ini
membahas kegiatan bisnis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas
suatu bisnis. Pembahasan mencakup bisnis dan lingkungan, globalisasi ekonomi
dan bisnis internasional, sistem ekonomi dunia dan bisnis, bentuk organisasi
bisnis, pemilihan letak usaha, manajemen, kewirausahaan, manajemen sumberdaya
manusia, motivasi kerja dan hubungan industrial, manajemen produksi, pemasaran
produk dan harga, distribusi dan promosi, manajemen keuangan, dan persediaan.
Bisnis adalah proses sosial yang dilakukan oleh setiap individu/kelompok
melalui proses penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan keinginan suatu produk
tertentu yang memiliki nilai atau memperoleh manfaat atau keuntungan.
Teori
belajar konstruktivistik dipilih karena sesuai dengan karakteristik mata kuliah
Dasar-dasar Bisnis yang tidak lepas dan mengacu pada kreativitas,
produktivitas, dan kemadirian. Kreatif karena dunia bisnis selalu inovatif
mengikuti hal-hal yang baru. Produktif karena dunia bisnis selalu mengacu pada
produktivitas yaitu output lebih besar dari input. Mandiri karena mata kuliah
ini terdapat pokok bahasan kewirausaaan.
C.
Penutup
M
|
enurut pandangan
konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.
Pembentukan ini harus dilakukan si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan,
aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang halhal yang
dipelajari. Dosen memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan
yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya
paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar mahasiswa itu
sendiri. Paradigma konstruktivistik memandang mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki
kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu pengetahuan yang baru. Bagi konstruktivistime,
kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan
membangun sendiri pengetahuannya, bukan merupakan proses mekanik untuk
mengumpulkan fakta. Terdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktivistik yaitu
belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative
learning, dan model pembelajaran kognitif.
Pembelajaran
lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide mahasiswa dalam mata
kuliah bisnis hal tersebut banyak terjadi. Kegiatan kurikuler lebih banyak
mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan. Pada mata
kuliah ini bisnis data secara luas di masyarakat dan tidak sulit untuk
memanipulasi bahan. Mahasiswa dipandang sebagai pemikir yang dapat dimunculkan
teori-teori tentang dirinya hal ini dapat terjadi pada mata kuliah bisnis.
Pengukuran proses dan hasil belajar mahasiswa terjalin di dalam kesatuan
kegiatan pembelajaran dengan cara dosen mengamati hal-hal yang sedang dilakukan
mahasiswa serta melalui tugas-tugas pekerjaan hal semacam ini memang harus
dilakukan oleh dosen pengampu mata kuliah bisnis. Mahasiswa banyak belajar dan
bekerja di dalam kelompok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar