|
S
|
aat
ini belajar merupakan salah satu topik paling penting di dalam psikologi.
Menurut Kimble (1961,h.6) belajar sebagai perubahan yang relative permanen di
dalam behavioral potentially (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat
dari reinforced practice dengan 5 syarat sebagai berikut. Pertama, belajar
diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku.Kedua, perubahan behavioral ini
relative permanen. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak selalu terjadi secara
langsung setelah proses belajar selesai. Keempat, perubahan perilaku berasal
dari pengalaman.Kelima, pengalaman atau praktik harus diperkuat.
Kesimpulan
: definisi belajar dari Kimble (1961) menyediakan kerangka yang bagus untuk
mendiskusikan sejumlah isu penting yang harus dihadapu saat kita mencoba
mendifinisikan apa itu belajar.
Kebanyakan
teoritis belajar memandang belajar sebagai proses yang memperantarai perilaku.
Menurut mereka, belajar adalah sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat
dari pengalaman dan mendahului perubahan perilaku.
Hasil
belajar akan terus menetap sampai ia dilupakan atau muncul hasil belajar baru
yang menggantikan hasil yang lama. Jadi, keadaan temporer dan proses belajar
akan memodifikasi perilaku, tetapi lewat belajar itulah modifikasi tersebut
akan relative lebih permanen.
Jadi,
di sini kita mengatakan bahwa potensi untuk bertindak secara berbeda adalah
berasal dari belajar, meskipun perilakunya mungkin tak dipengaruhi dengan
segera.Tipe observasi ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai perbedaan
antara learning (belajar) dan performance (tindakan).Belajar merujuk pada
kemungkinan perubahan perilaku, dan tindakan merujuk pada penerjemahan potensi
ini ke dalam perilaku.
Perilaku
yang lebih sederhana adalah hasil dari refleks.Sebuah refleks dapat
didefinisikan sebagai respon yang tak di pelajari lebih dahulu atau pembawaan
internal dalam rangka bereaksi terhadap sekelompok stimuli tertentu.Bersin saat
hidung gatal adalah salah satu contohnya.Refleks ini adalah karakteristik
bawaan genetik dari organisme, bukan hasil dari pengalaman.
Tetapi
poin yang ditekankan di sini adalah agar perubahan perilaku bias dikatakan
berkaitan dengan proses belajar, perubahan itu harus relatif permanen dan harus
berasal dari pengalaman. Jika satu organisme melakukan satu pola tindakan yang
kompleks, namun bukan berasal daari pengalaman, maka tindakan itu tidak bias
dikatakan sebagai perilaki yang diperlajari.
Conditioning
(pengkondisian, pensyaratan) adalah istilah yang lebih spesifik yang dipakai
untuk mendeskripsikan prosedur akual yang dapat memodifikasi perilaku. Karena
ada dua jenis pengkondisian :
·
Pengkondisian Klasik
dimana penguatan tidak bergantung pada respon nyata yang dibuat oleh organisme.
·
Pengkondisian
Instrumental dimana organisme harus bertindak dengan cara tertentu sebelum
perilaku di perkuat; yakni penguatan pada perilaku organisme.
Teoritisi
belajar semakin menyadari bahwa membatasi diri pada riset pengkondisian
instrumental dan klasik saja tidak akan bias membuat mereka memahami area
pengalaman manusia yang jauh lebih luas. Tidak ada organisme yang akan bertahan
hidup lama jika ia tidak dapat belajar tentang objek lingkungan mana yang bias
dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Organisme juga tidak bias bertahan
hidup lama jika ia tidak belajar tentang objek mana di dalam lingkungan yang
berbahaya dan mana yang aman. Proses belajar inilah yang membuat organisme bias
berinteraksi dengan lingkungan untuk memennuhi kebutuhan pokok yang tak bias
dipenuhi dengan mekanisme homeostatis atau gerak refleks. Karenanya belajar
harus dilihat sebagai alat utama yang digunakan seseorang untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan.Alat lainnya adalah mekanisme homeostatis, gerak refleks
dan setidaknya dalam kasus binatang, perilaku adaptif yang tak perlu dipelajari
terlebih dahulu.
BAB 2
PENDEKATAN UNTUK STUDI TENTANG BELAJAR
M
|
etode
mempelajari fenomena saat fenomena itu terjadi secara alamiah dinamakan naturalistic observation (observasi
naturalistic).Dengan teknik ini, kita melakukan observasi atau pengamatan
secara mendetail dan membuat catatan atas apa-apa yang tengah dikaji.Riset ini
sering menghasilkan pengelompokan atau klasifikasi berbagai elemen fenomena
yang diteliti.Observasi naturalistic mungkin penting untuk mengisolasi
kelompok-kelompok kejadian untuk keperluan studi lebih lanjut, namun ini
kemudian harus direduksi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil untuk
analisis lebih lanjut, pendekatan semacam ini dinamakan elementism.
Aspek- aspek Teori
Dalam dunia pengetahuan ilmiah,
empirisme dan rasionalisme menyatu dalam scientific
theory (teori ilmiah).Teori ilmiah mengandung dua aspek penting.Pertama,
sebuah teori memiliki aspek formal, yang mencakup kata dan symbol yang ada di
dalam teori.Kedua, sebuah teori memiliki aspek empiris, yang terdiri dari
peristiwa-peristiwa fisik yang hendak dijelaskan oleh teori itu. Karakteristik
teori ilmiah :
- Teori mengsintesiskan sejumlah observasi.
- Teori yang baik bersifat heuristic; artinya, ia menimbulkan riset baru.
- Teori harus menghasilkan hipotesis yang dapat diverifikasi secara empiris.
- Teori adala alat dan karenanya tidak bias dikatakan salah atau benar; ia bias dikatakan berguna atau tidak berguna.
- Teori dipilih berdasarkan hokum parsimony: Dari dua teori sama-sama efektif, yang lebih sederhanalah yang harus dipilih.
- Teori memuat abstraksi, seperti angka atau kata, yang merupakan aspek formal dari teori.
- Aspek formal dari suatu teori harus dikolerasikan dengan kejadian yang dapat diamati, yang merupakan asoek empiris dari suatu teori
- Semua teori adalah usaha untuk menjelaskan kejadia empiris, dan karenanya harus diawali dan diakhiri dengan observasi empiris.
Dalam
eksperimen belajar, definisi operasionalnya mengindikasikan jenis perilaku yang
akan dipakai untuk membuat indeks belajar. Lamanya jam deprivasi makanan secara
sistematis dimanipulasi oleh periset, dan karenanya ia adalah variable bebas.
Menurut
Kuhn sendiri, ilmu pengetahuan atau sains berubah (meskipun tidak selalu
bertambah maju) melalui serangkaian scientific revolutions (revolusi ilmiah),
yang mirip dengan revolusi politik, bukan melalui proses evolusi berkelanjutan
dalam satu kerangka teoretis. Menurutnya, evolusi ilmu pengetahuan setidaknya
adalah fenomena sosiologis sekaligus fenomena ilmiah. Kita bias menambahkan
bahwa ini juga merupakan fenomena psikologis karena ada keterlibatan emosional
di dalamnya.
BAB 3
GAGASAN AWAL TENTANG BELAJAR
E
|
pistemology
(epistemologi) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan hakikat
pengetahuan.Menurut Plato, setiap objek di dunia fisik memiliki “ide” atau
“bentuk” abstrak yang menyebabkannya. Informasi indrawi hanya menghasilkan
opini, ide-ide abstrak itu sendiri adalah satu-satunya basis dari pengetahuan
yang benar.Jadi pengetahuan yang benar berasal dari instropeksi atau analisis
terhadap diri.
Plato
adalah nativis karena dia menganggap pengetahuan adalah diwariskan.Dia juga
rasionalis karena dia menganggap pengetahuan ini hanya dapat diketahui melalui
pemikiran atau penalaran.
ARISTOTELES
Di
sini ada dua perbedaan utama antara teori pengetahuan Plato dengan
Aristoteles.Pertama, hukum, bentuk, atau alam yang dikaji Aristoteles dianggap
tidak memiliki eksistensi yang independen dari manifestasiempirisnya, seperti
yang diasumsikan Plato.Semesta adalah hubungan-hubungan yang dapat
diamati.Kedua, menurut Aristoteles semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman
indrawi.Tentu saja ini berbeda dengan Plato.Karena Aristoteles berpendapat
bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman indrawi maka dia disebut sebagai
empirisis.
MAZHAB
PSIKOLOGI AWAL
Voluntarisme
Mazhab
psikologi pertama adalah voluntarism (voluntarisme) dan aliran ini didirikan
oleh Wilhelm Maxmillian Wundt (1832-1920), yang mengikuti tradisi rasionalis
Jerman. Tujuan Wundt adalah mempelajari kesadaran sebagaimana ia dialami secara
langsung dan mempelajari produk dari kesadaran seperti berbagai pencapaian
kultural.
Wundt
mencatat bahwa manusia bias memperhatikan secara selektif terhadap elemen apa
pun dari pikiran yang mereka inginkan, dan menyebabkan elemen-elemen itu
dipahami lebih jelas. Perhatian selektif ini sebagai apperception
(appersepsi). Elemen pikiran juga dapat diatur sekehendaknya dalam sejumlah
kombinasi, sebuah proses yang oleh Wundt dinamakan creative synthesis
(sintesis kreatif). Karena penekanan Wundt pada kehendak inilah maka alirannya
dinamakan voluntarisme.
Strukturalisme
Dalam
menganalisis elemen pikiran, alat utama yang dipakai voluntaris dan
strukturalis adalah introspeksi.Mereka dilatih untuk melaporkan immediate
experience (pengalaman langsung) saat mereka mempersepsi objek dan tidak
melaporkan interpretasi atas objek itu.Dalam menjelaskan bagaimana
elemen-elemen itu dikombinasikan untuk membentuk pemikiran yang kompleks,
voluntarisme menekankan pada kehendak, appersepsi, dan sintesis kreatif atau mengikuti
tradisi rasionalistik.
Fungsionalisme
Kontribusi
utama fungsionalisme untuk teori belajar adalah bahwa mereka mempelajari
hubungan kesadaran dengan lingkungan, bukan mempelajarinya sebagai fenomena
tersendiri. Fungsionalis tidak menolak studi proses mental namun mereka
menegaskan bahwa proses mental harus selalu dipelajari dalam kaitanya dengan
survival. Kebanyakan fungsionalis percaya bahwa salah satu tujuan utama mereka
adalah memperbaiki informasi yang dapat dipakai untuk meningkatkan kondisi
manusia.
Behaviorisme
Behavioris
adalah bahwa perilakulah yang seharusnya dipelajari karena perilaku dapat
dikaji secara langsung.Behaviorisme berpengaruh besar terhadap teori belajar di
Amerika.Teori behavioristic ini dpaat disebut teori fungsional.Jadi, di dalam
tajuk behaviorisme umum kita dapat menyusun daftar teori fungsionalistik dan
asosiasinistik.
Satu paradigm kita sebut fungsionalistik. Paradigma ini
mencerminkan pengaruh drai Darwinisme karena ia menekankan pada hubungan antara
belajar dengan penyesuaian diri dengan lingkungan. Paradigma kedua kita sebut
sebagai asosiasionistik sebab ia
mempelajari proses belajar dalam term hukum asosiasi. Paradigma ketiga kita
namakan kognitif karena ia menekankan
sifat kognitif dari belajar. Paradigma keempat disebut sebagai neurofisiologis karena ia berusaha
mengisolasi korelasi neurofisiologis dari hal-hal seperti belajar, pemikiran
dan persepsi.
BAB 4
EDWARD LEE THORNDIKE
M
|
enurut
Thorndike bentuk paling dasar dari proses belajar adalah trial-and-error learning
(belajar dengan uji coba), atau yang disebutnya sebagai selecting and connecting
(pemilihan dan pengaitan).
Belajar adalah Inkremental, Bukan
Langsung ke Pengertian Mendalam (Insightful)
Thorndike menyimpulkan bahwa belajar
bersifat incremental (bertahap), bukan insightful. Dengan kata
lain, belajar dilakukan dalam langkah-langkah kecil yang sistematis, bukan
langsung melompat ke pengertian mendalam.
Belajar Tidak Dimediasi oleh Ide
Jadi, dengan mengikuti prinsip
parsimony, Thorndike menolak campur tangan nalar dalam belajar dan ia lebih
mendukung tindakan seleksi langsung dan pengaitan dalam belajar. Penentangan
terhadap arti penting nalar dan ide dalam belajar ini menjadi awal dari apa
yang kemudian menjadi gerakan behavioristic di Amerika Serikat.
Hukum Kesiapan
·
Apabila satu unti
konduksi siap menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan memuaskan.
·
Apabila satu unit
konduksi siap menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan menjengkelkan.
·
Apabila satu unit
konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka
penyaluran dengannya akan menjengkelkan.
Hukum Latihan
Hukum latihan menyatakan bahwa kita
belajar dengan berbuat dan lupa karena tidak berbuat.
Hukum Efek
Law of effect (hukum efek) adalah
penguatan atau pelemahan dari suatu koneksi antara stimulus dan respon sebagai
akibat dari konsekuensi dari respon.
Konsep Sekunder Sebelum
1930
Respon Berganda
Multiple response, atau respon yang
bervariasi, menurut Thorndike adalah langkag dalam semua proses belajar. Respon
ini mengacu pada fakta bahwa jika respon pertama kita tidak memecahkan problem
maka kita akan mencoba respon lain.
Prapotensi Elemen
Prepotency of elements (prapotensi
elemen) adalah apa yang oleh Thorndike dinamakan “aktivitas parsial dari suatu
situasi”. Cara kita merespon terhadap suatu situasi akan bergantung pada apa
yang kita perhatikan dan respon apa yang kita berikan untuk apa-apa yang kita
perhatikan itu.
Respon dengan Analogi
Apa yang menentukan cara kita
merespon suatu situasi yang belum pernah kita jumpai sebelumnya? Jawaban
Thorndike adalah response by analogy (respon dengan analogi), yaitu kita
meresponnya dengan cara seperti ketika kita merespon situasi yang terkait
(mirip) yang pernah kita jumpai. Jumlah transfer of training antara situasi
yang kita kenal dan yang tak kita kenal ditentukan dengan jumlah elemen yang
sama di dalam kedua situasi ini. Inilah identical elements theory transfer of
training (teori elemen identik dari transfer training) dari Thorndike
yang terkenal itu.
Pergeseran Asosiatif
Associative
shifting (pergeseran asosiatif) terkait
erat dengan teori Thorndike tentang elemen identic dalam training transfer.
PENDIDIKAN
MENURUT THORNDIKE
Situasi belajar harus sebisa mungkin
dibuat mempunyai dunia riil. Seperti yang telah kita ketahui, Thorndike percaya
bahwa proses belajar akan ditransfer dari ruang kelas ke lingkungan luar
sepanjang dua situasi itu mirip. Mengajari siswa memecahkan problem sulit tidak
selalu memperkaya kapasitas penalaran mereka.
Guru penganut ajaran Thorndike
mungkin akan menggunakan control positif di kelas, karena unsur satisfier (pemuas) akan memperkuat
koneksi, tetapi unsur annoyer atau
pengganggu akan melemahkannya. Guru Thorndike mungkin juga tidak akan
menggunakan cara pemberian ceramah di kelas dan lebih memilih menangani murid
satu per satu.
BAB 8
EDWIN RAY GUTHRIE
KONSEP
TEORITIS UTAMA
Satu Hukum Belajar
G
|
uthrie
(1952) berpendapat bahwa kaidah yang dikemukakan oleh para teoritis seperti
Thorndike dan Pavlov adalah terlalu ruwet dan tidak perlu, dan sebagai
penggantinya dia mengusulkan satu hukum belajar, law of contiguity (hukum kontiguitas). Cara menyatakan hukum
kontiguitas adalah jika Anda melakukan sesuatu dalam situasi tertentu, pada
waktu lain saat Anda dalam situasi itu Anda
cenderung akan melakukan hal yang sama.
Belajar Satu Percobaan
Jadi, menurut Guthrie, belajar
adalah hasil dari kontiguitas antara satu pola stimulasi dengan satu respond an
belajar akan lengkap (asosiasi penuh) hanya setelah penyandingan antara stimuli
dan respon.
Prinsip Kebaruan
Apapun yang kita lakukan terakhir
kali dalam situasi tertentu akan cenderung kita lakukan lagi jika situasi itu
kita jumpai lagi.
Stimuli yang Dihasilkan oleh Gerakan
Guthrie memecahkan problem ini
dengan mengemukakan adanya movement-produced
stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh
gerakan tubuh.Fakta penting tentang stimuli yang disebabkan oleh gerakan ini
adala bahwa respon dapat dikondisikan ke stimuli semacam itu.
Guthrie membedakan antara acts (tindakan) dengan movements (gerakan). Gerakan adalah
kontraksi otot, tindakan terdiri dari berbagai macam gerakan. Tindakan biasanya
didefinisikan dalam term apa-apa yang dicapainya, yakni perubahan apa yang
mereka lakukan dalam lingkungan.
Sifat penguatan
Menurut Guthrie penguatan hanyalah
aransemen mekanis, yang dianggapnya dapat dijelaskan dengan hukum belajarnya.Penguatan
mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya mencegah terjadinya
nonlearning.
Lupa
lupa
disebabkan oleh munculnya respon alternative dalam satu pola stimulus. Setelah
pola stimulus menghasilkan respon alternative, pola stimulus itu cenderung
menghasilkan respon baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti melibatkan proses
belajar baru. Ini adalah retroactive
inhibition (hambatan retriaktif) yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses
belajar lama diintervensi oleh proses belajar baru.
Cara Memutus Kebiasaan
- Metode Ambang yaitu dengan cara mencari petunjuk yang memicu kebiasaan buruk dan lakukan respon lain saat petunjuk itu muncul.
- Metode Kelelahan
- Metode Respon yang Tidak Komatibel, metode ini untuk menghentikan kebiasaan dengan stimuli untuk respon yang tak diinginkan disajikan bersama stimuli lain yng menghasilkan respon yang tidak kompatibel dengan respon yang tidak diinginkan tersebut.
Pendapat Gurthrie Tentan Pendidikan
Guthrie menyarankan proses
pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respon apa yang
haruus dibuat untuk suatu stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan
memunculkan respon yang dinginkan bersama dengan adanya stimuli yang akan
dilekatkan padanya. Menurutnya yang diperlukan adalah siswa mesti merespon
dengan tepat dalam kehadiran stimuli tertentu. Latihan (praktik) adalah penting
karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk menghasilkan perilaku yang
diinginkan. Karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus “belajar
ulang” berkali-kali.
BAB 10
TEORI GESTALT
G
|
estalt
yang mengikuti tradisi Kantian, percaya bahwa organisme menambahkan sesuatu
pada pengalaman, dimana sesuatu itu adalah tindakan menata (organisasi)
data.Gestalt adalah kata Jerman yang berarti pola atau konfigurasi.
KONSEP
TEORITIS UTAMA
Teori Medan
Karena otak adalah system fisik,
otak menciptakan medan yang memperngaruhi informasi yang masuk ke dalamnya,
seperti medan magnet mempengarhui partikel logam. Medan kekuatan inilah yang
mengatur pengalaman sadar.Apa yang kita alami secara sadar adalah informasi
sensoris setelah ia dikelola oleh medan kekuatan dalam otak.
Hukum Pragnanz
Kekuatan medan di otaklah yang
memunculkan pengalaman yang bermakna dan tertata, ingat bahwa informasi indrawi
yang telah ditransformasikan oleh kekuatan medan di otak itulah yang kita alami
secara sadar. Jadi, lingkaran yang tak lengkap itu adalah apa yang kita alami
secara sadar indrawi (sensoris), tetapi lingkaran utuh adalah pengalaman yang
kita alami secara sadar.
Realitas Subjektif dan Objektif
Menurut teoretisi Gestalt, yang
menentukan perilaku adalah kesadaran atau realitas subjektif, dan fakta ini
mengandung implikasi penting.Menurutnya, Pragnanz bukan hanya satu-satunya hal
yang mengubah dan memberi makna pada apa-apa yang kita alami secraa
fisik.Hal-hal seperti keyakinan, nilai-nilai, kebutuhan, dan sikap juga
melengkapi apa-apa yang kita alami secara sadar. Ini berarti bahwa orang dalam
lingkungan fisik yang persis sama, akan bervariasi dalam mengintepretasikan
lingkungan itu, dan karenanya bervariasi pula dalam reaksinya.
Prinsip Belajar Gestalt
Belajar, menurut Gestalt adalah
fenomena kognitif.Organisme “mulai melihat”solusi setelah memikirkan problem.
Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan
menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke
cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme
mendapatkan wawasan (insight)tentang solusi problem.
Isightful
learning (belajar berwawasan) biasanya dianggap memiliki empat
karakteristik:
- Transisi dari prasolusi ke solusi terjadi secara mendadak dan komplet
- Kinerja berdasarkan solusi diperoleh dengan pengertian mendalam yang biasnaya bebas dari kekeliruan
- Solusi untuk suatu problem yang diperoleh melalui wawasan mendalam ini akan diingat dalam waktu yang cukup lama
- Prisnisp yang diperoleh melalui wawasan mendalam ini mudah diaplikasikan ke problem lainnya.
Belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan
lebih dapat digeneralisasikan ketimbang belajar yang hanya berdasarkan ingatan
tanpa pemahaman. Agar benar-benar belajar, siswa harus melihat hakikat atau
struktur dari problem, dan mereka harus melakukannya sendiri.Adalah benar bahwa
guru dapat membimbing murid untuk mendapatkan wawasan itu, tetapi pada akhirnya
mereka sendiri harus berusaha memahaminya.
Pendapat Psikologi Gustalt Tentang
Pendidikan
Bruner dan Holt menganut gagasan
Gestaltin bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu
didorong-dorong oleh penguatan eksternal. Kelas yang berorientasi Gestalt akan
dicirikan oleh hubungan memberi-dan-menerima antara murid dengan guru. Guru
akan membantu siswa memandang hubungan dan menorganisasikan pengalaman mereka
ke dalam pola yang bermakna. Belajar berdasarkan pendapat Gustalt bias dimulai
dengan sesuatu yang familiar dan setiap langkah dalam pendidikan didasarkan
pada hal-hal yang sudah dikuasai.
BAB 16
PENUTUP
S
|
etidaknya
ada empat tren utama dalam pendekatan studi belajar dewasa ini.
- Teori belajar saat ini lebih sederhana cakupannya
- Ada penekanan pada neurofisiologi belajar
- Proses kognitif seperti pembentukan konsep, pengambilan risiko, dan pemecahab masalah kembali menjadi topic studi yang popular
- Ada peningkatan perhatian terhadap aplikasi prinsip belajar untuk solusi problem praktis.
Tampaknya bahwa semakin banyak yang diketahui
tentang suatu area, semakin mudah untuk membedakannya.Semakin banyak area
belajar yang diketahui, area itu semakin terdiferensiasi.Area belajar menjadi
makin heterpgen dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Apa artinya ini bagi mahasiswa yang tertarik untuk
mempelajari tentang belajar? Mahasiswa punya petunjuk mengenai pendekatan yang
sudah ada untuk mempelajari proses belajar. Mereka bias memilih salah stau
pendekatan yang paling memuaskan selera mereka dan berkonsentrasi pada
pendekatan itu.